Thursday, November 18, 2010

Apakah Aku Akan Terus Mengeluh seperti Ini? (August 25, 2005)

Semalam di rumah pada hari sekolah seperti ini, membuatku kembali pada masa-masa SMA-ku. Masa-masa aku tinggal di rumahku yang sesungguhnya. Rumahku yang nyaman. Teringat kembali keseharianku di SMA.
Setiap pagi, suara yang pertama kali kudengar saat aku bangun tidur adalah suara ketukan di pintu, lalu suara Mama yang, walau dari jarak dekat, setengah berteriak memanggil nama-nama kami untuk menyuruh bangun. Jam 5 pagi. Mama biasa membangunkan kami jam 5 pagi. Menyuruh kami solat, mengomeli kami karena tidur larut malam sehingga tidak bisa bangun pagi, dan memperingatkan bahwa bila di antara kami ada yang belum siap berangkat pada jam 6.30, maka beliau akan meninggalkan kami begitu saja. Namun kadang Mama membangunkan dengan lembut, suaranya hangat, memanggil kami dengan panggilan sayang, mengelus punggung untuk membangunkan kami. Bahkan kadang Mama membangunkan dengan memeluk tubuhku yang sedang tidur.
Setelah Mama berusaha membuat kami terbangun dengan segala cara, dengan malas aku bangkit dari pembaringanku. Aku berusaha menggeliat sedemikian rupa untuk membuat tubuhku lebih segar dan tergerak untuk bangun, namun setiap kali aku menggeliat, aku malah merasa semakin nyaman di tempat tidur sehingga semakin tidak ingin bangkit. Aku sangat mengantuk. Aku pun menunggu Mama pergi. Kadang-kadang Mama langsung pergi saat aku berlagak akan turun dari tempat tidurku di atas. Lalu setelah Mama pergi aku kembali tidur. Maksudku, aku akan benar-benar bangun dan bersiap ke sekolah saat jam telah menunjukan jam 6 kurang. Namun saat membuka mata, tiba-tiba saja jam sudah menunjukan pukul 6 lewat. Sekonyong-konyong Mama sudah kembali ke kamarku, mengomel dengan gemas karena menangkap basah aku tertidur kembali.
Namun kadang Mama benar-benar mengawasi dan menunggu sampai aku benar-benar turun dari tempat tidur, wudhu, dan solat. Kalau sudah begitu, aku akan berwudhu, solat cepat-cepat, lalu berpura-pura membaca doa sesudah solat, padahal aku sedang tidur. Kalau sudah begitu, Mama tidak mencurigaiku.
Setelah rutintas bangun pagi yang konyol itu, selanjutnya adalah mandi. Kami mandi bergantian karena kami bertiga berbagi satu kamar mandi. Biasanya, saat dibangunkan pagi-pagi, aku memaksa adikku, Deany untuk mandi lebih dulu sehingga aku bisa melanjutkan tidurku sampai ia selesai mandi. Apalagi mandinya lama. Jadi, bila Mama marah karena aku belum mandi juga dan masih tidur saja, aku bisa beralasan Deany yang mandinya lama. Adrian biasa mandi paling belakangan.
Yang paling menyenangkan dari rutintas pagiku di rumah adalah sarapan. Meja makan di rumah kami bundar. Seperti meja bundar King Arthur yang melambangkan kesamaan derajat. Tidak ada yang duduk di pojok, tidak ada yang duduk di sisi panjang atau pendek, pokoknya semua duduk di sisi lingkaran. Semua sama. Bapak selalu duduk di kursi terdekat dengan kulkas. Mama di sebelah kanannya. Adrian di sebelah kanan Mama, Deany di sebelah kiri Bapak, aku di antara kedua adikku, membelakangi televisi. Kami selalu duduk dengan posisi seperti itu pada saat sarapan, makan siang, makan malam, dan berkumpul untuk menonton VCD. Bedanya hanya bila sedang menonton VCD tentu saja aku tidak membelakangi televisi.
Karena kami memesan katering setiap hari, maka kami makan katering untuk makan siang dan makan malam. Hanya saat sarapanlah Mama selalu memasak untuk kami. Masakan Mama sangat istimewa. Mama bangun jauh lebih pagi dari kami untuk menyiapkan spaghetti, sup brokoli, nasi goreng, omelet keju, banyak sekali masakan enak buatan Mama. Walaupun kadang hanya menyiapkan mie rebus atau nasi dan telur dadar, tetap saja rasanya sangat enak.
Kadang kami sudah siap tepat waktu sehingga Mama mengemudi dengan tenang dan santai. Namun kami lebih sering membuat Mama menunggu dan hampir meninggalkan kami. Biasanya aku panik kalau mendengar Mama sudah mengeluarkan mobil dari garasi dan aku belum siap. Karena selanjutnya ia akan menekan klakson dengan galak dan aku tidak pernah suka mendengarnya. Sekarang aku rindu suara klakson itu.
Lalu rutintas jalanan. Mama mengemudi dengan mulut yang sibuk mengomel, entah itu mengomeli kami karena selalu saja lamban, entah memaki sesama pengemudi yang ngotot, atau pengendara motor yang membahayakan. Pokoknya, setiap pagi selalu dipenuhi omelan dan makian. Mama lebih tenang bila Tante Linda menemaninya, atau bertemu Bu Enny di perjalanan dan mengajak beliau ikut mobil kami. Dulu Adrian dan Deany masih SMP. Jadi, setelah menurunkan mereka di depan SMP PJ, aku dan Mama melanjutkan perjalanan berdua saja, kecuali setelah Yuda mulai ikut mobil kami atau sewaktu Wulan ikut mobil kami. Aku seringkali bercerita pada Mama. Aku menceritakan apa saja, meminta pendapatnya sehingga aku bisa mendebatnya dan terjadilah perdebatan sengit di mobil, bahkan terkadang sampai merusak suasana di antara kami. Konyol sekali.
Kami tiba di sekolah. Aku mencium kedua pipi Mama sebelum keluar dari mobil. Saat keluar dari mobil aku merasakan kesejukan udara pagi yang menyelimuti sekolahku. Pak Edi sudah bersiaga di bangku kayu depan gerbang sekolah, siap menegur kesalahan dalam penampilan anak-anak yang baru tiba. Aku seringkali tiba di sekolah bersamaan dengan Ayu. Aku senang sekali bila tiba bersamaan dengannya. Kami berjalan bersama ke kelas.
Aku merindukan kelas yang masih sepi di pagi hari, teman-teman yang berdatangan satu-persatu, lalu selanjutnya, menunggu dengan harap-harap cemas, apakah Sisi akan masuk atau tidak hari itu. Selanjutnya, guru yang masuk ke kelas, sampai SMA-pun kami masih saja memberi salam seperti anak SD: “Bersiap! Beri Salam!” aba-aba ketua kelas. Lalu kami bersama-sama berkata, “Selamat pagi, Pak!” Konyolnya SMA…
Hari pun dimulai. Sejuk pagi semakin menghilang, panas matahari pun datang. Udara di kelas semakin panas. Suara guru di depan kelas terdengar semakin membosankan, kecuali pada pelajaran Sejarah dan Matematika. Mood belajar semakin menciut, ngantuk datang, dan tidurlah aku di kelas, di sebelah sahabat terbaikku, Sisi. Kadang ia ikut-ikutan tidur, bersandar di bahuku, kadang ia mengganggu tidurku dengan tangan jahil atau wajah bodohnya, kadang ia masih sibuk mencatat, kadang ia mengobrol atau menulis puisi. Aku kangen Sisi.
Keluargaku bahagia. Rumahku bahagia. Aku saja yang dulu begitu bodoh untuk menyadarinya.
Setelah kuliah dan tinggal di kost, tidak ada lagi Mama yang selalu membangunkanku dengan lembut, maupun dengan galak. Hanya ada jam weker yang kadang lupa kunyalakan. Tidak ada lagi yang memaksaku solat, semuanya tinggal bagaimana kesadaranku untuk solat saja. Tidak ada lagi yang membuatkan sarapan untukku. Aku harus membuat sarapan sendiri, itupun kalau ada bahannya di kulkasku yang lebih sering kosong melompong. Sejak tinggal di kost, aku jarang sekali sarapan. Tidak ada lagi blazer yang mengantarku ke sekolah. Aku hanya bisa menumpang teman kostku yang bawa mobil kalau jadwal kuliah kami sama. Kalau tidak, terpaksa aku berjalan keluar kompleks untuk mencari ojek atau menunggu bis berjam-jam tanpa hasil.
Tidak boleh kusesali dan kukeluhkan. Pada masa SMA aku pun selalu mengeluh. Padahal kini aku merindukan masa-masa itu. Kehidupan selalu berubah. Suatu ketika aku sudah berkerja dan mempunyai rumah sendiri, barangkali aku akan merindukan masa-masa kuliah ini. Merindukan kamar mandi bagus namun jorok itu, merindukan kulkas kosongku, merindukan suara tante yang berceloteh tanpa henti, merindukan teman-teman kostku, merindukan Lippo. Dan pada saat itu, aku akan menyesalkan semua keluhan dan sumpah serapah yang kulontarkan selama ini.

1 comment:

  1. Sejak meninggalkan kos-kosanku, aku selalu merindukannya dan aku jadi benci keadaan di rumahku. Aku sudah terlalu terbiasa dengan kesendirian sehingga ketika kembali ke rumahku yang ramai, aku jadi membencinya. Tapi ketika membaca kembali tulisan ini, yang kutulis di masa-masa saat aku benar-benar merasa sendirian di kos, aku jadi ingat betapa saat itu aku selalu merindukan suasana ramai di rumahku ini.

    ReplyDelete