Ya, Allah…, mengapa begitu sulitnya untuk melaksanakan kewajiban solat lima waktu? Mengapa begitu sulit untuk selalu berjalan di jalan-Mu? Belum seminggu aku berusaha menjalankan solat lima waktu, aku sudah merasa begitu bosan. Apalagi setelah memikirkan, untuk menjadi hamba-Mu yang setia, aku harus melakukan solat itu lima kali sehari! Tujuh hari seminggu. Tigapuluh hari sebulan, duabelas bulan setahun, dan entah berapa tahun lagi umurku, yang kuharap masih panjang. Apakah ini yang membuat orang-orang soleh (atau yang berlagak soleh) ingin cepat mati? Karena di surga (place where they think they’ll be) mereka tidak perlu melakukan ini lagi? Solat? Apakah ini sebenarnya yang membuat surga begitu indah? Tidak adanya kewajiban untuk melakukan apapun? Termasuk solat lima waktu yang membosankan ini?
Kenapa aku tiba-tiba merasa bosan? Setan kah yang membuatku bosan? Padahal, terakhir kali aku solat, aku masih melakukannya dengan sepenuh hati. Kurasa, mungkin aku memang sedang bosan saja. Atau sedang merasa hampa karena tidak ada yang terjadi hari ini?
Bagi orang yang bosan belajar, mereka pasti salah menempatkan belajar sebagai kewajiban mereka. Seharusnya mereka menempatkan belajar sebagai kebutuhan mereka. Dan itu memang benar. Semua orang butuh belajar. Tapi solat?
Solat adalah mutlak kewajiban. Kalau dikatakan kebutuhan, yah, aku butuh mengucap syukur pada-Mu, ya Allah. Tapi itu lebih seperti… sekedar cerminan kesadaran atau tahu diri. Seperti bila seorang teman baru saja membantuku dan sebelum aku sempat mengucapkan terimakasih ia sudah pergi. Aku memang merasa tidak enak karena belum bilang terimakasih. Tapi aku tidak merasa rugi. Seperti itulah rasanya bila aku tidak solat.
Aku solat karena aku takut. Kalau aku tidak solat, aku tidak bisa protes kalau Allah membiarkan hal buruk akan terjadi padaku. Kalau aku tidak solat, aku tidak bisa masuk surga, aku akan masuk neraka.
Tuhan Yang Maha Besar? Apakah Kau segitu gila hormatnya? Kalaupun ya, aku maklum. Kaulah Sang Maha Pencipta, Maha Berkehendak, Maha Tahu, dan Maha segalanya. Kalau aku mampu menciptakan segala yang Kau ciptakan, mampu mengkehendaki segala yang Kau kehendaki untuk terjadi, mampu mengetahui semua yang Kau tahu, maka aku pasti akan menjadi Maha Gila Hormat dan Gila Sembah seperti dirimu ya, Allah. Aku tidak benci padamu, ya, Allah. Sifat gila hormat dan gila sembah memang buruk kalau dimiliki manusia. Tapi kalau Kau yang memilikinya, ya, Allah, kurasa itu sifat yang wajar-wajar saja.
Al-Quran adalah kumpulan dari perintah-Mu. Kalau begitu, sudah pasti Kau yang meminta untuk selalu disembah, sedikitnya lima kali sehari. Tapi, yah, U deserved it, God. You’re the One.
Lewat Al-Quran, perwujudan kata-kata-Mu, aku jadi tahu semua kebaikan yang kuterima berasal dari-Mu. Kalau begitu, sebenarnya Kau punya sifat riya juga, ya, Allah. Tapi, yah, sekali lagi, Kau berhak. Toh, Kau satu-satunya yang bisa kuandalkan kalau aku punya masalah. Toh Kau juga satu-satunya yang selalu bisa menolong kalau aku kesusahan. Kau juga satu-satunya yang bisa dan tidak pernah keberatan untuk selalu melindungiku tanpa tidur. Kau juga satu-satunya yang bisa mengabulkan semua permintaanku. Dan Kau juga yang paling tahu segalanya. Jadi, tidak ada gunanya aku mengeluhkan kewajiban ini bukan? Toh ilmuku tidak akan pernah sampai sepermilyar ilmu-Mu, jadi Kau pasti lebih tahu.
Baiklah, akan kujalani saja kewajibanku ini. Aku baru berpikir, kalau saja ada satu manusia yang bisa melakukan semua yang Allah lakukan padaku, aku pasti tidak akan pernah merasa bosan untuk mengucapkan terima kasih pada orang itu, dan berharap ia Tuhan agar aku bisa menyembahnya. Jadi, kurasa aku bersyukur sekali lagi karena hanya Allah yang bisa melakukan semua kebaikan padaku. Jadi, aku hanya perlu menyembah-Nya.
Aku baru menyimpulkan satu hal lagi yang bisa menjawab sebuah pertanyaan di benakku. Selama ini aku bertanya-tanya, mengapa orang yang rajin beribadah, sekali saja meninggalkan ibadahnya, hal yang sangat buruk terjadi. Seperti Tante Lintang, yang hanya karena lupa berdzikir saja sudah dihukum Allah dengan peristiwa kerampokan di jalan. Atau Mama yang sudah solat lima waktu dan selalu berdoa setiap kali berpergian, tapi Kamis lalu mengalami kejadian mengerikan itu di jalan! Padahal, aku yang tidak pernah beribadah, sedikit saja beribadah, hal yang sangat baik terjadi padaku. Tadinya kupikir itu tidak adil. Kalau keadaannya begitu, lebih baik jadi orang yang tidak pernah beribadah saja, bukan?
Tapi mungkin itu justru sangat adil kalau dilihat dari segi pengetahuan.
Orang yang rajin sekali beribadah bisa begitu rajinnya karena mereka sudah mengetahui segalanya tentang Allah dan sudah merenung banyak-banyak, sehingga mereka merasa begitu perlu untuk selalu beribadah. Ketika mereka melalaikan ibadahnya, maka mereka telah sengaja melakukan sesuatu yang sudah jelas mereka sadari salah. Seperti seorang Nabi yang dituntut selalu sempurna, tidak boleh berbuat dosa sedikitpun. Dosa sekecil apapun yang mereka lakukan akan mendapat balasan besar dari Allah.
Sedangkan, orang yang jarang beribadah pasti orang yang belum tahu apa-apa sehingga tidak tahu apa gunanya mereka beribadah. Karena itulah, niat mereka untuk melakukan ibadah sedikit saja pasti begitu besarnya di mata Allah. Karena niat untuk memulai yang sedikit itu, cepat atau lambat akan menjadi awal dari suatu amal yang besar.
No comments:
Post a Comment