Monday, November 29, 2010

Aku benci kehidupan berumahtangga (Tuesday, May 9, 2006)

Aku benci kehidupan berumahtangga sekaligus mencintainya setengah mati. Aku menikmati saat-saat berkumpul bersama keluargaku. Aku merindukan keluargaku setiap saat. Aku punya bayangan ideal tentang keluargaku di masa depan: aku, anak tunggalku, seekor anjing ras, dan seorang pembantu yang kuperlakukan semanusiawi mungkin. Namun bersamaan dengan itu, aku membenci dengan picik kehidupan berkeluarga. Keluarga, bagiku adalah tempat sepasang suami-istri saling menyalahkan karena kegagalan anak mereka, tempat suami mengkhianati istrinya dengan selingkuh, tempat istri terus meneror suami dengan tagihan uang belanja, anak-anak super nakal dan susah diatur meloncat ke sana kemari, membuat ibu mereka nyaris gila, dan segala kengerian lainnya. Kehidupan rumah tangga adalah terror.
Aku benci pada pria sekaligus menciptakan sosok pria idealku: cerdas, menyukai sastra dan seni, pemain bola handal, suka bertualang. Sambil menciptakan sosok pria ideal, aku terus menekankan pada diriku, pria seperti itu punya tiga kemungkinan: tidak ada sama sekali, ada tapi tidak akan bersedia menghabiskan sisa hidupnya denganku, atau ada dan mau menghabiskan hidupnya denganku, tapi segera berubah menjadi pria cerewet, kejam, tukang kritik, egois, dan doyan selingkuh, paling lambat setahun setelah menikah.
Solusinya: aku mau punya anak tapi tidak mau punya suami. Aku berencana mengadopsi anak. Tapi hati kecilku menginginkan darah dagingku sendiri. Dan kalau kuturuti, mungkin aku akan terpaksa membiarkan seorang pria meniduriku sampai hamil lalu meninggalkanku begitu saja. Tidak. Tentu saja aku tidak membiarkan harga diriku jatuh. Aku ingin mencampakan pria yang menghamiliku. Hidup seperti Angelina Jolie adalah hidup ideal bagiku. Tidur dengan pria manapun tanpa menikah, mengadopsi anak, dan bertualang ke manapun ia mau.

1 comment:

  1. Don't take this serious. I was just a gloomy little spoiled brats back then.

    ReplyDelete