Thursday, November 18, 2010

Aku Tidak Ingin Kehilangan Ayahku (Mon, February 6, 2006)

Aku kaget sekali ketika pagi ini Mama mengagetkanku dengan berita yang sangat mengagetkan itu. Om Dadang, ayah Talitha baru saja meninggal dunia. Ya ampun! Baru satu minggu yang lalu aku dan adikku menemani Mama menjenguk almarhum di RS Fatmawati. Sore ini pun aku dan Mama melayat. Sebenarnya aku takut. Aku mungkin tidak siap menghadapi kesedihan Talitha dan saudara-saudaranya. Saat tiba di sana, suasananya memang begitu sendu. Aku tidak tahan melihat kesedihan di wajah Willy yang terus berusaha menahan tangisnya. Aku ingin menangis. Aku seolah bisa membayangkan dan merasakan kesedihannya. Aku lebih sedih lagi saat melihat tangisnya pecah di pemakaman. Akhirnya anak yang begitu muda itu tidak kuat lagi membendung air matanya. Pemandangan yang lebih memilukan adalah melihat anak itu menangis sambil memandangi foto almarhum ayahnya. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya kalau aku tidak bisa lagi melihat wajah Bapak, selain dengan melihat fotonya. Suatu saat, cepat atau lambat, saat itu akan datang. Tapi untuk saat ini, aku masih bersyukur Bapak masih selalu ada untukku dan adik-adik. Aku sangat takut kehilangannya. Selama ini aku sangat tidak tahu diri. Selalu saja menulis hal-hal jelek tentang ayahku di diary dan seringkali membencinya karena hal-hal kecil. Padahal ayahku adalah orang yang paling berarti dalam hidupku. Karena ia selalu membuatku senang, nyaman, aman, bangga, dan mau melakukan segala hal demi menyenangkan hati anak-anaknya. Ayahku memang yang terbaik.

No comments:

Post a Comment