Malam ini, saat menonton final Champion entah kenapa aku merasa banyak hal di dunia ini yang mengecewakanku dan ingin kurubah. Apakah orang berpikir aku terlalu suka ikut campur? Ya. aku mungkin memang suka ikut campur masalah orang lain. Orang miskin ditindas, sebenarnya bukan masalahku. Anak-anak kecil disuruh mengamen dan mengemis, bukan masalahku juga. Wanita-wanita miskin diperkosa dan pemerkosanya bebas saja, bukan masalahku. Secara tidak langsung, ya. tapi secara langsung, bukan. Tapi bila kalian dirampok di tengah kerumunan orang dan orang-orang memperhatikan saja, apakah kalian berharap orang-orang itu tidak akan ikut campur? Kalau kalian orang miskin, kalian berharap orang lain tidak ikut campur karena kemiskinan itu masalah kalian? Kalian lebih berharap mereka menjadikan kalian sebagai alasan untuk bersyukur?
Orang-orang menyedihkan itu hanya berpikir untuk jadi kaya raya. Mereka pergi ke masjid, ke gereja, bersyukur pada Tuhan karena di Negara ini masih begitu banyak yang lebih miskin dari mereka. Ya Tuhan! Mereka bersyukur atas sesuatu yang tak patut disyukuri!
Tulisan-tulisan antara tahun 2005-2006, ketika aku masih kuliah di Universitas Pelita Harapan dan tinggal di tempat kos. Di sini akan terlihat sedikit-banyak perbedaan antara aku pada saat itu dan aku yang sekarang. Aku sedikit-banyak berubah dari masa itu. Tapi ada juga beberapa hal yang hingga kini belum berubah. Sebenarnya, aku banyak menuliskan tulisan-tulisan yang cukup baik sampai tahun 2009. Sayangnya, semua itu hilang karena virus di computer lamaku. Jadi, inilah yang tersisa.
Monday, November 29, 2010
Ketakutanku akan Menjadi Tua dan Berkeluarga terus Berlanjut (Tuesday, May 16, 2006)
Untuk kesekian kalinya dalam hidupku, aku merindukan sesuatu yang takkan pernah kembali. Masa SMA.
Hari-hari di mana aku sudah tak pantas lagi mengenakan seragam SMA telah tiba. Tadi aku membayangkan OSPEKTI 2005 di mana Nitha mengenakan seragam putih-putih. Tidak pantas. Lalu aku membayangkan Dinda, Nindy, Amanda, Vania, semuanya. Dan aku sendiri. Semua dalam bayanganku tampak tidak pantas mengenakan seragam SMA. Dan akhirnya masa itu akan datang. Masa di mana semua alumni PJ lulusan 2004 telah menikah dan berkeluarga. Tidak ada lagi kumpul bersama untuk bergosip dan bermain sepakbola di Pingguin. Iqrar sudah memulainya. Semakin lama, semakin jarang saja aku berkumpul dengan teman-teman SMA-ku. Melihat Mama saat ini, aku jadi terbayang, di masa yang akan datang, mungkin kumpul bersama teman-teman SMA-ku hanya akan terjadi setahun sekali, dalam reuni yang sangat formal. Kami pergi ke reuni tahunan dengan mengajak keluarga masing-masing, lalu lebih sibuk mengurus anak-anak kami yang tidak mau makan, lalu kami harus cepat pulang karena anak kami bosan. Dan mungkin kami memang tidak bisa pergi tanpa mengajak anak.
Hari-hari di mana aku sudah tak pantas lagi mengenakan seragam SMA telah tiba. Tadi aku membayangkan OSPEKTI 2005 di mana Nitha mengenakan seragam putih-putih. Tidak pantas. Lalu aku membayangkan Dinda, Nindy, Amanda, Vania, semuanya. Dan aku sendiri. Semua dalam bayanganku tampak tidak pantas mengenakan seragam SMA. Dan akhirnya masa itu akan datang. Masa di mana semua alumni PJ lulusan 2004 telah menikah dan berkeluarga. Tidak ada lagi kumpul bersama untuk bergosip dan bermain sepakbola di Pingguin. Iqrar sudah memulainya. Semakin lama, semakin jarang saja aku berkumpul dengan teman-teman SMA-ku. Melihat Mama saat ini, aku jadi terbayang, di masa yang akan datang, mungkin kumpul bersama teman-teman SMA-ku hanya akan terjadi setahun sekali, dalam reuni yang sangat formal. Kami pergi ke reuni tahunan dengan mengajak keluarga masing-masing, lalu lebih sibuk mengurus anak-anak kami yang tidak mau makan, lalu kami harus cepat pulang karena anak kami bosan. Dan mungkin kami memang tidak bisa pergi tanpa mengajak anak.
Aku benci kehidupan berumahtangga (Tuesday, May 9, 2006)
Aku benci kehidupan berumahtangga sekaligus mencintainya setengah mati. Aku menikmati saat-saat berkumpul bersama keluargaku. Aku merindukan keluargaku setiap saat. Aku punya bayangan ideal tentang keluargaku di masa depan: aku, anak tunggalku, seekor anjing ras, dan seorang pembantu yang kuperlakukan semanusiawi mungkin. Namun bersamaan dengan itu, aku membenci dengan picik kehidupan berkeluarga. Keluarga, bagiku adalah tempat sepasang suami-istri saling menyalahkan karena kegagalan anak mereka, tempat suami mengkhianati istrinya dengan selingkuh, tempat istri terus meneror suami dengan tagihan uang belanja, anak-anak super nakal dan susah diatur meloncat ke sana kemari, membuat ibu mereka nyaris gila, dan segala kengerian lainnya. Kehidupan rumah tangga adalah terror.
Aku benci pada pria sekaligus menciptakan sosok pria idealku: cerdas, menyukai sastra dan seni, pemain bola handal, suka bertualang. Sambil menciptakan sosok pria ideal, aku terus menekankan pada diriku, pria seperti itu punya tiga kemungkinan: tidak ada sama sekali, ada tapi tidak akan bersedia menghabiskan sisa hidupnya denganku, atau ada dan mau menghabiskan hidupnya denganku, tapi segera berubah menjadi pria cerewet, kejam, tukang kritik, egois, dan doyan selingkuh, paling lambat setahun setelah menikah.
Solusinya: aku mau punya anak tapi tidak mau punya suami. Aku berencana mengadopsi anak. Tapi hati kecilku menginginkan darah dagingku sendiri. Dan kalau kuturuti, mungkin aku akan terpaksa membiarkan seorang pria meniduriku sampai hamil lalu meninggalkanku begitu saja. Tidak. Tentu saja aku tidak membiarkan harga diriku jatuh. Aku ingin mencampakan pria yang menghamiliku. Hidup seperti Angelina Jolie adalah hidup ideal bagiku. Tidur dengan pria manapun tanpa menikah, mengadopsi anak, dan bertualang ke manapun ia mau.
Sunday, November 21, 2010
Surga Bagiku… (Tuesday, May 9, 2006)
Bisa dikatakan, aku bukan termasuk orang yang percaya kenikmatan surgawi. Pepohonan, padang rumput terindah, buah-buahan terlezat, bidadari dan malaikat…, yuck! Walaupun tidak lebih buruk dari ibliz dan pemandangan orang disiksa di neraka, itu semua mengerikan! Membosankan! Bosan adalah neraka juga bagiku.
Tapi aku pembohong besar. Sebagai pembohong besar, mungkin aku bisa mendeskripsikan surga bagiku, para pembohong dengan jujur. Well, sebenarnya, bayanganku tentang alam baka keseluruhan. Semuanya adalah tentang rasa malu dan kejujuran. Di alam baka, semua manusia kembali berkumpul dan segala kebenaran terungkap di mata semua manusia.
Jadi, bagi para pembohong dan pendosa sepertiku, alam baka menjadi neraka karena semua orang tahu kebusukan kami dan kami dibenci. Lalu orang-orang yang paling sedikit melakukan dosa dan yang hidup paling jujur akan merasa begitu bahagia karena segala amal kebaikan dan kejujuran yang mereka jalani dalam kehidupan terungkap dan mereka semua jadi terhormat.
Yah, singkatnya, neraka bagiku adalah (ketika terungkap) kebenaran. Surga bagiku adalah tempat di mana semua mahluk menghormatiku dan segala sesuatunya berjalan sesuai kehendakku.
Tapi aku pembohong besar. Sebagai pembohong besar, mungkin aku bisa mendeskripsikan surga bagiku, para pembohong dengan jujur. Well, sebenarnya, bayanganku tentang alam baka keseluruhan. Semuanya adalah tentang rasa malu dan kejujuran. Di alam baka, semua manusia kembali berkumpul dan segala kebenaran terungkap di mata semua manusia.
Jadi, bagi para pembohong dan pendosa sepertiku, alam baka menjadi neraka karena semua orang tahu kebusukan kami dan kami dibenci. Lalu orang-orang yang paling sedikit melakukan dosa dan yang hidup paling jujur akan merasa begitu bahagia karena segala amal kebaikan dan kejujuran yang mereka jalani dalam kehidupan terungkap dan mereka semua jadi terhormat.
Yah, singkatnya, neraka bagiku adalah (ketika terungkap) kebenaran. Surga bagiku adalah tempat di mana semua mahluk menghormatiku dan segala sesuatunya berjalan sesuai kehendakku.
Caraku Menggambarkan Diriku (Tuesday, May 9, 2006)
Perlu seluruh kosakata yang ada dalam kamus Bahasa terlengkap untuk menggambarkan sebuah kepribadian yang kaukenal seutuhnya. Misalnya, kepribadian yang kukenal seutuhnya: aku. Aku merupakan sebuah pribadi yang begitu kompleks. Aku sinis dalam kata-kata, namun sangat optimis dalam hati. Walaupun selalu mengeluh dan berpikiran negative, seperti orang yang terlalu takut pada resiko sekecil apapun, namun dalam hati, aku selalu penuh harap dan mimpi. Mungkin juga kelelahan bermimpi itulah yang terwujud dalam kata-kata pesimisku. Aku layaknya seorang seniman sejati: eksentrik, murung, idealis, menikmati hidup walaupun tidak mau mengakuinya, kecewa pada realita, dan depresi. Aku adalah orang paling gembira saat berada di tengah keluarga dan teman-teman, namun, di kala sendirian bisa menjadi orang paling murung yang masih bertahan hidup di muka bumi. Anehnya, justru dalam kesendirian itulah kudapatkan kebahagiaan sejati. Aku suka menyiksa diri dengan halusinasi bahwa aku kesepian dan menyedihkan. Tapi aku sama sekali bukan orang depresi yang membenci diri sendiri dan berniat mengakhiri hidup dengan timah panas menembus kepala. Justru aku sangat mencintai diri sendiri lebih dari apapun di dunia ini. Dan aku juga sangat tergila-gila pada kehidupan duniawi sebobrok apapun. Bisa dikatakan, aku bukan termasuk orang yang percaya kenikmatan surgawi. Jangankan mengakhiri hidup dengan timah panas, merokok pun aku tidak sudi! Aku bukan benar-benar cermat dalam menjaga tiap detil kesehatan.
Saturday, November 20, 2010
Aku Ingin Semua Orang Bebas Berekspresi (Thursday, April 13, 2006)
Saat melihat foto Anggun C. Sasmi dengan baju yang terbuka di bagian perut, saya berpikir Anggun C. Sasmi adalah salah satu wanita Indonesia yang cukup beruntung bisa memamerkan perutnya yang rata tanpa diprotes sejumlah kalangan tertentu yang munafik dan tidak punya perkerjaan apapun.
Mengapa beruntung? Karena kupikir, hampir setiap wanita adalah exhibisionis. Semua wanita ingin dikagumi. Dan bagi yang memiliki tubuh indah, atau keindahan apapun dalam tubuhnya, kurasa sedikit banyak pasti mereka punya perasaan ingin menunjukkan keindahan itu. Dan wanita selalu ingin membuat pria terkagum-kagum melihat keindahan mereka.
Kurasa itu wajar. Dan wanita yang menonjolkan keindahan tubuhnya bukan berarti ingin memancing nafsu birahi pria. Tapi mereka ingin menunjukkan, pada pria maupun sesama wanita, inilah tubuh saya. Saya gemuk, tapi bentuk tubuh saya tetap indah. Saya langsing, payudara saya besar, pantat saya indah, tungkai saya panjang, kulit saya mulus, dan seterusnya. Menyenangkan, melihat wanita gemuk yang percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang indah.
Benar! Cantik tidak selalu harus langsing. Kurasa cara wanita mengenakan busana yang menunjukkan keindahan tubuhnya, adalah bentuk rasa syukur dan cinta terhadap tubuhnya, apa adanya, dan itu baik sekali! Karena ada orang yang begitu tidak mencintai tubuhnya, sehingga mengenakan pakaian kegedean untuk menutupi tubuh yang membuat mereka malu itu. Padahal, sama sekali tidak ada yang salah dengan mereka.
Di saat iklan obat pelangsing dan lotion pemutih kulit bermunculan di mana-mana, seharusnya kita bersyukur masih ada wanita gemuk atau berkulit gelap yang bisa menerima dan menunjukkan dengan bangga apa yang mereka punya, dengan berani mengenakan busana yang tidak serba tertutup, namun masih wajar.
Pakaian adalah bentuk ekspresi manusia dan sewajarnya menjadi hak asasi setiap manusia, seperti halnya hak asasi manusia dalam memilih agama. Karena itu saya tidak heran kalau di Indonesia ini manusia tidak bisa bebas berpakaian.
Thursday, November 18, 2010
Ketakutan Terbesarku (Friday, April 7, 2006)
Aku menyedihkan. Saat memasuki usia remaja, aku masih tidak menerima keremajaanku. Aku masih ingin jadi anak kecil, dan aku merasa aku masih kecil. Kini aku telah beranjak dewasa! Aku akan segera menjadi 20 tahun! Tapi aku belum siap! Aku masih suka menangis dan merajuk. Aku masih labil, belum bisa mengendalikan emosiku. Aku belum mandiri, belum punya penghasilan, dan masih main the sims dan nonton nickelodeon. Aku tidak akan pernah siap untuk apapun yang menyambutku, dan saat aku telah menikmati kedewasaan nanti, masa tua pasti telah datang, dan aku tidak akan siap untuk menjadi tua. Dan saat aku berhasil menikmati masa tua, mungkin waktuku mati telah dekat, dan untuk yang satu itu, mungkin aku tidak akan pernah siap!
Aku takut mati. Aku takut sekali!
Aku akan jadi orangtua pemarah yang mudah tersinggung dan begitu takutnya untuk tidur karena tidak yakin masih ada hari esok. Ya Tuhan! setiap saat bayangan kematian menghantuiku. Aku takut jadi tua! Tapi aku juga takut mati muda!
Alam baka begitu mengerikan. Neraka adalah mimpi buruk. Tapi surga juga entah seperti apa. Aku percaya Tuhan. Tapi aku tidak percaya surga lebih nikmat dari dunia. Apakah di sana ada sepakbola? Apakah di sana ada film Hollywood dan serial TV? Apakah di sana ada komik, popularitas, dan baju keren? Apakah di sana orang hanya memakai baju serba putih, tidak membicarakan film dan komik, dan tidak lagi tertarik untuk main sepakbola? Apakah kalau sudah masuk surga, orang, bahkan aku, akan lupa pada asiknya main sepakbola? Atau setiap piala dunia, para penghuni surga turun ke bumi untuk ikut nonton pertandingan?
Yang jelas, aku tidak mau mati sebelum aku mencapai semua cita-citaku. membesarkan seorang pemain sepakbola professional, memelihara pittbull, melakukan sesuatu yang baik untuk kaum wanita, binatang, dan Negara Indonesia ini, dan bertemu dengan Ronaldo!
Subscribe to:
Posts (Atom)